Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897, mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang Indonesia pertama pada Perang Dunia I.

Di Indonesia, Sosrokartono mendirikan sekolah dan perpustakaan. Ia juga membuka rumah pengobatan Darussalam di Bandung. Tempo menelusuri jejak sang intelektual dan spiritualis ini dari orang-orang yang pernah bersinggungan dengan Sosrokartono, juga dari berbagai bukunya, termasuk surat- surat Kartini dan adik-adiknya, dan dari naskah pidatonya yang masih tersimpan di Leiden.

Selama 29 tahun ia hidup melanglang Eropa. Di Bandung ia mendirikan perpustakaan, rumah pengobatan, dan dicap komunis.

—-
FOTO hitam putih seukuran kartu pos itu masih ia simpan rapi. Saat itu Kartini Pudjiarto masih delapan tahun. Ia bersama ibunya RA Siti Hadiwati dan kakeknya PAA Sosro Boesono berfoto bersama RM Panji Sosrokartono di rumah pengobatan Darussalam di Jalan Pungkur 7, Bandung, milik Sosrokartono.

Sosrokartono (1877-1952) adalah adik kandung Boesono. Keduanya adalah kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita yang setiap tanggal 21 April selalu dirayakan di seluruh pelosok Indonesia. Mereka adalah anak Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode 1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Pasangan ini memiliki delapan anak.

Foto yang menjadi koleksi tak ternilai Kartini Pudjiarto itu dipotret pada 1950, dua tahun menjelang Sosrokartono wafat. Eyang Sosro, begitu Kartini memanggil, duduk di sebuah kursi. “Eyang Sosro lebih sering duduk di kursi, karena separuh tubuhnya sudah lumpuh,” ucapnya kepada Tempo pecan lalu.

Ia masih ingat, setiap kali berkunjung ke rumah panggung yang dindingnya terbuat dari bambu itu, ia selalu dicium dan diusap kepalanya. Eyang Sosro sering berpuasa. Jika tak berpuasa, ia jarang makan. “Eyang sering hanya minum air kelapa,” tutur Kartini.


Meski separuh lumpuh, Kartono—begitu RA Kartini dan adik-adiknya memanggil—masih menerima ratusan tamu yang datang dengan berbagai kepentingan, mulai dari sekadar meminta nasihat, belajar bahasa asing, hingga mengobati berbagai macam penyakit.

Pada setiap pengobatan, Kartono biasanya memberikan air putih dan secarik kertas bertulisan huruf Alif (singkatan dari Allah) kepada pasien. Kartini Pudjiarto masih menyimpan lukisan sederhana berbingkai kayu yang berisi goresan Alif di kertas putih pemberian Eyang Sosro. “Katanya buat jaga-jaga,” ujar Kartini.

Ada pula secarik kertas putih yang berisi nasihat Eyang Sosro bertulisan “Sugih tanpa banda / Digdaya tanpa aji / Nglurug tanpa bala / Menang tanpa ngasorake” (Kaya tanpa harta/ Sakti tanpa azimat/ Menyerbu tanpa pasukan/ Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan) yang ditempel dengan selotip di dinding. Ia juga menyimpan tongkat Kartono, yang merupakan jatah warisan keluarga yang dibagi-bagi setelah sang eyang meninggal.

Air putih, huruf Alif, nasihat-nasihat hidup yang ia tulis dalam bahasa Jawa, dan laku berpuasa berhari-hari, adalah bagian dari “wajah mistik” Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang terjun ke medan peperangan di Perang Dunia I di Eropa sebagai wartawan. Selama 29 tahun, Sosrokartono lebih dikenal sebagai seorang intelektual yang disegani di Eropa. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) atau De Mooie Sos (Sos yang Tampan).

Ia mengembara ke beberapa negara. Mula-mula ia belajar di Delft, Belanda, lalu pindah ke Universitas Leiden, bergaul dengan kalangan bangsawan Eropa, kemudian menjadi wartawan perang. Ia juga pernah menjadi staf Kedutaan Besar Prancis di Den Haag, bahkan sempat menjadi penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa. Kartono pada akhirnya memutuskan
pulang ke Indonesia mendirikan perpustakaan dan sekolah. Seperempat abad sisa umurnya kemudian ditambatkan sebagai seorang spiritualis.

Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (Hasta Mitra, Jakarta, 1997) menggambarkan kelebihan Kartono sebagai spritualis itu. Pram mengutip kesaksian seorang dokter Belanda di CBZ (kini RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta) pada 1930-an. Ia menyaksikan Kartono menyembuhkan wanita melahirkan yang menurut para dokter tak tertolong lagi, tapi sembuh setelah minum air putih yang diberikan Kartono.

Suryatini Ganie, cucu RA Sulastri Tjokrohadi Sosro, kakak seayah Sosrokartono, menggambarkan kelebihan Kartono yang juga kakeknya itu sebagai orang yang mudah sekali menebak pikiran orang. Menurut pengarang buku Resep-resep Kartini ini, Eyang Sosro cenderung menyendiri, jauh di Bandung, dibanding berkumpul dengan keluarga yang tersebar di Jawa Tengah.

Rumah pengobatan Pondok Darussalam milik Sosrokartono merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan dinding bambu. Rumah itu dibangun memanjang membentuk huruf L sepanjang Jalan Pungkur. Bangunan itu tepat berada di depan terminal angkutan kota Kebun Kelapa sekarang.

Kini bangunan itu sudah tidak ada lagi. Penghuninya sudah berganti, begitu juga nomor rumahnya, yang sudah memakai nomor baru yang dipakai sejak 1960-an. Pemilik ruko yang menempati Jalan Pungkur 3, 5, 7, 9 ketika ditanya tidak tahu bahwa di jalan itu pernah ada pondok pengobatan milik Sosrokartono. Mendengar cerita Kayanto, pondok pengobatan milik Kartono diperkirakan menempati deretan bangunan yang kini sudah berubah menjadi toko listrik, swalayan di Gedung Mansion, serta sebuah apotek yang terletak di sudut Jalan Pungkur dan Jalan Dewi Sartika.

Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, masih ingat: Darussalam tak pernah sepi. Tamunya mulai dari orang Belanda, pribumi, hingga Cina peranakan. Ia pernah melihat Bung Karno datang menemui Kartono. Saat itu Kartono menggoreskan huruf Alif di atas kertas putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Bung Karno, entah untuk apa. Bung Karno pula, menurut penuturan ayahandanya, kerap datang untuk belajar bahasa kepada Sosrokartono.

Kartono, menurut Kayanto, tidak pernah lepas dari sebuah tongkat, beskap berwarna putih lengan panjang, sebuah topi (mirip mahkota) warna hitam, dan mengalungkan tasbih yang menggantung hingga dadanya. Janggutnya sebagian sudah memutih, sorot matanya tajam, dan lebih banyak diam.

Darussalam, selain menjadi rumah pengobatan, juga sebuah perpustakaan. Kartono dalam suratnya kepada Abendanon pada 19 Juli 1926 (Surat- surat Adik R.A. Kartini terbitan PT Djambatan 2005) menceritakan selain mendirikan perpustakaan Panti Sastra di Tegal bersama adiknya, RA Kardinah, ia juga mendirikan perpustakaan di Bandung. “Perpustakaan ini tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono.

Buku-buku perpustakaan itu disumbang oleh dua orang insinyur perusahaan kereta api Staats Spoorwegen, tiga orang partikelir bangsa Belanda, dua orang wanita Belanda, tiga orang Jawa, dan seorang Tionghoa. “Semboyannya tanpo rupo tanpo sworo, yang berarti tidak berwarna, tiada perbedaan, tiada perselisihan,” ucap Kartono.

Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap bahasa, sastra, dan budaya Jawa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, mengatakan Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa Bandung. Kartono diminta menempati gedung itu oleh RM Soerjodipoetro, adik Ki Hajar Dewantara. “Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale
Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa,” ujar Budya.

Di perpustakaan inilah tokoh pergerakan Indonesia sering berkumpul, termasuk Ir Soekarno. Bung Karno juga diminta mengajar di sekolah itu bersama Dr Samsi dan Soenarjo SH. Gedung ini juga dipakai oleh Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.

Kepeloporan Kartono sebagai tokoh pendidikan inilah yang hendak dikenang Sukadiah Pringgohardjoso, mantan Duta Besar RI untuk Denmark (1981-1984). Sukadiah kini aktif sebagai pembina Yayasan Pendidikan Anak Sehat Sosrokartono di Cengkareng Barat, Jakarta. Yayasan ini didirikan oleh Sosrohadikusumo, anak dari Soematri Sosrohadikusumo—adik Kartono. “Kami lebih mementingkan hal-hal konkret: mendidik anak sesuai dengan keinginan beliau dan mengentaskan kemiskinan,” ujar Sukadiah.

Kartono tak pernah beku. Di Belanda, selain kuliah, ia menjadi koresponden liputan Perang Dunia I untuk koran The New York Herald, cikal bakal The New York Herald Tribune. Agar bisa lebih masuk ke kancah perang, ia menerima pangkat mayor dari tentara Sekutu, tapi menolak dipersenjatai.
Salah satu keberhasilan Kartono sebagai wartawan adalah ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang (Baca: Wartawan Mooie dari Hindia Belanda).

Sebagai koresponden perang, tulis Mohammad Hatta dalam Memoir, Kartono bergaji US$ 1.250 sebulan. “Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup sebagai seorang miliuner di Wina. Menurut cerita ia bergaul dalam lingkungan bangsawan,” tulis Hatta.

Kartono, intelektual yang menguasai 17 bahasa asing itu, mudah diterima kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan bahkan Prancis. Ia berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin. Bahkan, “Ia juga pandai berbahasa Basken (Basque), suatu suku bangsa Spanyol,” kata Hatta.

Dengan pengetahuan dan kecakapan berbahasa itu, Kartono memberanikan diri menemui Gubernur Jenderal W. Rooseboom pada 14 Agustus 1899, sebelum berangkat ke Batavia untuk memangku jabatannya yang baru. Solichin Salam dalam Drs. RMP Sosrokartono, Sebuah Biografi (terbitan Yayasan Pendidikan Sosrokartono, 1979) menyebutkan, dalam pertemuan
tersebut Kartono meminta kepada Rooseboom untuk benar-benar memperhatikan pendidikan dan pengajaran kaum pribumi di Hindia Belanda.

Profesor Dr J.H.C. Kern, dosen pembimbingnya di Universitas Leiden, kemudian mengundang Kartono untuk menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899. Dalam kongres yang membicarakan masalah bahasa dan sastra Belanda di pelbagai negara itu, Sosrokartono mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan.

Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), Kartono antara lain mengungkapkan: “Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

Keluhuran tradisi itulah yang menurut Kartono mesti dipertahankan orang-orang pribumi di mana saja berada. Dengan cakrawala pengetahuan yang terbuka—Kartono meminta pemerintah jajahan agar bahasa Belanda dan bahasa internasional lain diajarkan di Hindia Belanda—kaum pribumi bisa mempertahankan kemuliaan tradisi dan harga diri mereka.

Setelah 29 tahun melanglang Eropa sejak 1897, pangeran tampan dari tanah Jawa itu pun pulang. Ia ingin mendirikan sekolah sebagaimana dicita- citakan mendiang adiknya, Kartini. Ia juga ingin mendirikan perpustakaan. Untuk menghimpun modal, pada mulanya ia melamar menjadi koresponden The New York Herald untuk Hindia Belanda, tapi koran itu sudah berganti pemilik dan merger dengan koran lain.

Namun, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartono menyatakan kekecewaannya. Sesampai di Jawa, ia telah dicap sebagai komunis oleh pemerintah jajahan. “Itu merupakan bentuk fitnah yang sangat keji yang saya rasakan, namun tidak berdaya terhadapnya,” tulis Kartono.

"Tapi kepada Anda, Nyonya yang mulia, saya bersumpah atas kubur ayah saya dan Kartini, bahwa saya sama sekali tak pernah menganut paham komunis, dulu tidak, sekarang pun tidak. Tidak ada yang lebih saya inginkan daripada bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsa saya, dalam artian yang telah dimaksudkan oleh Kartini," ucap Kartono.

Kartono kemudian menggalang dukungan dari kelompok pergerakan di Indonesia. Ia menemui Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan itu lalu mempersilakan Kartono membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa Bandung. Ia pun diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota ini.

Pada saat yang bersamaan, ia menyaksikan orang-orang kelaparan dan diserang berbagai macam penyakit. Kartono pun kemudian menjalankan laku puasa bertahun-tahun untuk merasakan apa yang juga diderita saudara-saudaranya. Ia juga menjadikan Darussalam sebagai rumah pengobatan.

Cerita air putih, Alif, dan wejangan-wejangan hidup dalam bahasa Jawa, kemudian mengalir dari sini dan menjelmakan Kartono sebagai seorang penyembuh. Walaupun tak memiliki murid, di kemudian hari Kartono memiliki “pengikut”. Paguyuban Sosrokartanan, komunitas pencinta Sosrokartono, kini telah ada di empat kota: Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Di Yogyakarta, paguyuban ini juga membuka rumah pengobatan.

Separuh badan Kartono lumpuh sejak 1942. Kartono mangkat pada 1952, tanpa meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.

Di dinding pagar besi di makam Kartono, terpasang tulisan huruf Alif dalam bingkai kaca seukuran 10R. Di bawahnya terdapat foto Kartono mengenakan setelan jas ala orang Barat. Di nisan sebelah kiri, tercantum kata- kata terpilih Kartono: Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji. Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat: Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

Sosrokartono, di Belanda

Di Belanda, Sosrokartono terjerat masalah utang. Hubungan dengan para profesor kenalannya memburuk. Ia tak pernah menyelesaikan disertasi doktornya.
—————
Di meja makan itu telah berkumpul empat orang tokoh politik etis Belanda: J.H. Abendanon, C.T. Van Deventer, Profesor Snouck Hurgronje, Profesor Hazeu. Mereka menunggu seorang tamu yang saat itu tengah mengambil program doktor di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Leiden: R.M.P.
Sosrokartono, kakak Kartini.

Tiga nama pertama bukanlah orang asing bagi Kartono—nama panggilan Sosrokartono. Abendanon (1852-1925) adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dari 1900 sampai 1905. Kartini dan adik-adiknya sering berkirim surat pada istri Abendanon. Kartono pun tinggal di rumah Abendanon ketika pertama kali menginjakkan kaki di Belanda pada 1897.

Sedangkan Van Deventer (1857-1915) dikenal sebagai seorang ahli hukum Belanda yang kemudian mendirikan Yayasan Kartini, yang membuka sekolah bagi putri-putri pribumi.

Profesor Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah seorang orientalis yang baru pulang dari Aceh. Berkat laporan Hurgronje, Belanda kemudian bisa menaklukkan Aceh pada 1905. Setahun kemudian, Hurgronje kembali ke Universitas Leiden dan langsung menjadi pembimbing disertasi Kartono.

Tamu yang dinanti tiba. Kartono muncul dengan berpakaian necis. Maklum, ia anak Bupati Jepara yang sehari-hari lebih banyak bergaul dengan kaum bangsawan. Tamu empat tokoh itu juga dikenal sebagai mahasiswa cerdas yang menguasai 17 bahasa dunia.

Setelah acara makan berakhir, salah seorang dari mereka angkat bicara, “Tuan Sosrokartono, kami mendengar Tuan sekarang banyak mempunyai utang. Apabila Tuan mau menyudahkan disertasi Tuan, kami bersama akan membayar utang itu.”

Kartono menjawab tak terduga-duga. “Maaf Tuan-tuan yang terhormat, utang itu ialah satu-satunya harta saya. Harta saya yang satu-satunya itu akan Tuan-tuan ambil lagi dari saya,” ucapnya. Para pembesar politik etis Belanda itu seketika tak berkata apa-apa. Jamuan makan pun langsung bubar.

Peristiwa undangan makan pada 1906 itu dicatat oleh Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia, dalam bukunya, Memoir. Hatta menulis berdasar penuturan sahabatnya, Dahlan Abdullah, yang mengenal Kartono. Benarkah penuturan itu? Apakah masalah utang tersebut kemudian menjadi halangan utama Kartono yang tak pernah merampungkan disertasinya yang berjudul De Middel Javaanse Taal?

Solichin Salam dalam Drs R.M.P. Sosrokartono, Sebuah Biografi (1994), yang diterbitkan Yayasan Pendidikan Sosrokartono, menyebutkan bahwa Hurgronje pernah melontarkan ucapan menyakitkan yang menyebabkan disertasi Kartono berantakan. “Selama di sini saya masih berkuasa, Sosrokartono tak akan dapat menjadi doktor,” ucap Hurgronje.

Salam tak menyebutkan dari sumber mana kutipan itu berasal. Tapi Amin Singgih, penulis Drs R.M.P. Sosrokartono, Sarjono-Satrya Pinandita, mengutip ucapan yang sama dari Profesor R.M.T. Wreksodiningrat (1848-1913) dan R.M. Soemitro Kolopaking, Bupati Banjarnegara (1927-1949) yang pernah sekolah di Belanda pada 1907. Keduanya mengaku mendengar langsung dari Hurgronje.

Ucapan itu bermula dari rasa tak suka Hurgronje terhadap pidato Kartono dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 pada 1899, yang menyalahkan pemerintah jajahan tak memperhatikan hak-hak kaum pribumitermasuk hak mempelajari bahasa Belanda untuk membuka cakrawala pengetahuan mereka. Hurgronje yang berjiwa kolonial, tulis Salam yang juga pernah menulis biografi Bung Hatta (1982), tak senang terhadap Sosrokartono yang terkenal sebagai seorang patriot.

Sikap Hurgronje itu berbeda dengan pembimbing Kartono sebelumnya, Profesor Dr J.H.C. Kern. Kern amat menyayangi Kartono. Profesor ini pula yang mengajak Kartono menjadi pembicara dalam kongres itu. Kern kemudian memasukkan Kartono ke lingkaran dalam ilmuwan bahasa di Kerajaan Belanda.

Ihwal kedekatan Kartono dengan Kern, juga dengan Van Deventer, diungkapkan oleh Roekmini (1880-1951), adik Kartono dari lain ibu, dalam surat-suratnya kepada istri Abendanon. Sebaliknya, Roekmini tak pernah menyinggung soal Hurgronje. Kartono tampaknya tak banyak bercerita soal problem-problem yang ia hadapi di Eropa kepada adik-adiknya.

Kartini sendiri pada 1901—saat itu Kartono baru empat tahun tinggal di Belanda—pernah menyebutkan bahwa kakak kesayangannya, yang semula menjadi pendukung dan penghiburnya, kemudian justru membutuhkan dukungannya.

Surat-surat Roekmini yang dimuat dalam buku Surat-surat Adik R.A. Kartini (dikumpulkan oleh Frits G.P. Jaquet), yang diterbitkan PT Djambatan tahun lalu, banyak menyinggung soal utang-utang Kartono itu. Roekmini menyebut Kartono yang terjerat masalah utang itu sebagai “kakak yang malang”.

Dalam suratnya bertanggal 21 Desember 1907, Roekmini menceritakan ia tak tega menjelaskan kondisi tak menentu Kartono kepada dua ibunya, yang masih sedih ditinggal Kartini. “Mereka masih mengira bahwa dia kuliah dengan menerima beasiswa. Mereka akan jatuh sakit kalau mengetahui keadaan
sebenarnya Kartono,” tulis Roekmini.

Pada suratnya yang lain (10 Agustus 1910), Roekmini menyebut tindakan Kartono yang berutang itu sebagai “kelakuan yang buruk”. Roekmini, yang tengah menyiapkan mendirikan sekolah Kartini, bahkan menunjukkan kemarahannya pada sang kakak yang dinilai telah mencemarkan nama keluarga. “Ia begitu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan sesat dan tidak mau memperlihatkan jiwanya yang sebenarnya,” kata Roekmini.

Adik Kartini ini juga menyatakan, kehidupan mewah sang kakaklah yang menyebabkan Kartono selalu kekurangan uang dan bahkan berutang. Ia menduga, Kartono terlalu banyak bergaul dengan para pangeran dari Solo.

Elisabeth Keesing dalam Betapa Besar pun Sebuah Sangkar: Hidup, Suratan dan Karya Kartini (PT Djambatan, 1999) menyebut Kartono bersahabat dengan seorang pangeran dari Pura Pakualaman. Pangeran itu menghabiskan waktu sembilan tahun sebelum menempuh ujian kandidat di Delft. Kartono, yang bersahabat dengan pangeran-pangeran kaya, memaksakan diri hidup dengan biaya tinggi. “Persahabatan, terutama selama 10 tahun pertama, lebih banyak untuk kesenangan putra raja itu daripada untuk kesenangan Kartono,” tulis Keesing.

Roekmini pada akhirnya menyatakan terima kasih kepada Nyonya Abendanon, yang telah membantu membayar sebagian utang Kartono. Tapi ia amat menyayangkan sang kakak telah memutuskan hubungannya dengan dua gurunya, Mr Van Deventer dan salah seorang profesornya yang, kata Roekmini, “selalu menunjukkan simpati padanya”.

Jaquet menduga profesor yang dimaksud Roekmini adalah Kern. Tapi Salam mengatakan persahabatan Kartono dan Kern tetap baik, meski Kern telah pensiun. Kartono bahkan diminta menulis karangan dalam buku album Kern pada ulang tahunnya yang ke-70. Kartono adalah satu-satunya warga Indonesia di antara 280 orang yang menuliskan kesan tentang Kern.

Apakah sang profesor itu adalah Hurgronje? Dalam surat pamitannya kepada Mr Abendanon pada 5 Juli 1925, Kartono mengungkapkan, ia sempat mengunjungi Hurgronje untuk berpamitan. Kartono bahkan menyebut Hurgronje sebagai “orang yang bersimpati pada kesejahteraan bangsa Jawa”.

Kartono justru mengungkapkan kekesalannya kepada W. Sonneveld—pernah bekerja sebagai sekretaris dan direktur di Departemen Kehakiman pada 1916-1917—yang ia sebut sebagai sahabat keluarganya. Sonneveld, kata Kartono, telah meluluskan tuntutan beberapa kenalan terhadapnya. Kartono pun terpaksa harus membayar biaya perkara gugatan utang-piutang kenalannya hingga tiga kali lipat. “Tindakannya yang sewenang-wenang telah membawa akibat finansial yang fatal bagi saya dan keluarga saya,” tulis Kartono tentang Sonneveld.

Ia pun merasa diperlakukan Sonneveld—yang meskipun pernah bertahun-tahun tinggal di Hindia Belanda dan dekat dengan keluarganya—bak seorang kuli. “Birokrat-birokrat dan otokrat-otokrat yang telah “jatuh ke atas” (mendapat posisi lebih tinggi) tidak kami butuhkan di Hindia,” Kartono mengungkapkan kegeramannya.

Kartono, yang telah berkali-kali diminta ibu dan adik-adiknya untuk pulang, kemudian memutuskan kembali ke Indonesia. Sesampai di negeri sendiri, Kartono, yang telah malang-melintang sebagai wartawan di Eropa dan pernah bekerja sebagai penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa, ternyata tak bisa mendapat pekerjaan apa pun. Ia telah dicap oleh pemerintah jajahan sebagai “komunis”.

Yos Rizal Suriaji

Nasehat-nasehat Sosrokartono:

Teman-teman ada sebuah nasihat dari tokoh bangsa yang bernama Raden Mas
Panji Sosrokartono, kakak dari R.A Kartini. Beliau memberikan nasehat
menjelang akhir hayatnya:

Sugih tanpa banda
Digdaya tanpa aji
Nglurug tanpa bala
Menang tanpa ngasorake

yang mempunyai arti
Kaya tanpa harta
sakti tanpa jimat
Menyerbu tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan lawan

  1. prayogalex reblogged this from mencobabelajar
  2. chodinque reblogged this from mencobabelajar
  3. mencobabelajar posted this